Tasikmalaya- Puluhan mantan narapidana terorisme (Napiter) asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang tergabung dalam Yayasan Ansharul Islam, melakukan deklarasi menolak radikalisme dan terorisme di Markasnya di Kota Tasikmalaya, Rabu (24/12/2025) malam.
Upaya ini merupakan bagian bentuk kesadaran dari para mantan Napiter yang sudah ikrar NKRI, untuk tetap menangkal paham radikal yang masih menjadi ancaman bagi bangsa.
Ketua Yayasan Ansharul Islam yang menaungi mantan napiter Tasikmalaya, Anton Hilman mengaku pihaknya sengaja mengumpulkan anggota dan rekan-rekannya terus memupuk pemahaman anti radikalisme dan terorisme yang melekat pada mantan Napiter.
“Kita sengaja berkumpul melakukan deklarasi menolak radikalisme dan terorime, sebagai bentuk kesadaran para mantan Napiter sudah terbebas dari paham tersebut” ujarnya.
Upaya ini mendapatkan respon positif dari para napiter dan berharap acara seperti terus berlanjut untuk memberikan pemahaman kuat tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tentunya berbaur kembali dengan masyarakat sekitar lingkungannya.
“Alhamdulillah, teman-teman antusias dan menyambut baik acara ini” lanjut Anton.
Acara deklarasi ini pun, lanjut Anton, sebagai salah satu upaya untuk menjaga situasi kamtibmas yang kondusif menjelang Hari Natal.
“Mudah-mudahan dengan adanya acara ini situasi kamtibmas menjadi kondusif, khususnya menjelang Natal” tutupnya.
Sebagai informasi, Yayasan Ansharul Islam bergerak dalam bidang kemanusiaan. Dan didirikan oleh mantan pelaku aksi teroris yang selama ini identik membuat keresahan masyarakat dan mengancam kesatuan NKRI.
Tasikmalaya merupakan daerah yang banyak dihuni teroris beberapa tahun lalu sehingga Tasikmalaya menjadi sorotan dan citra buruk. Salah satu penyebabnya dikarenakan sejarah wilayah ini dulunya menjadi basis Darul Islam (DI/TII Kartosuwiryo). Saat ini masih banyak eks pengikutnya yang meneruskan pemahaman radikalnya hingga menyebar.

Leave a Reply